Rabu, 22 Agustus 2029
Upah yang Sama
Di banyak perempatan kota, pagi-pagi sekali para buruh harian sudah berkumpul. Tukang, kuli, pekerja serabutan, menunggu ada yang menawari kerja. Yang terangkut pagi beruntung. Yang lain menunggu sampai sore dengan cemas, sebab tidak diangkut berarti tidak ada nasi malam ini.
Perumpamaan hari ini lahir dari dunia itu. Seorang tuan mempekerjakan orang di kebun anggur. Ada yang mulai pagi, ada yang baru pukul lima sore. Ketika waktunya membayar, semua menerima sama, satu dinar, cukup untuk sehari. Yang bekerja sejak pagi bersungut-sungut. 'Mereka hanya bekerja satu jam, dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang menanggung panas terik.'
Tuan itu menjawab, 'Iri hatikah engkau karena aku murah hati?' Yang diberikan kepada pekerja sore bukan upah yang dicuri dari pekerja pagi. Yang pagi tetap menerima haknya penuh. Yang berubah hanya satu: kemurahan sang tuan membuat sebagian orang iri.
Betapa sering kita begitu. Kita tidak keberatan Tuhan baik, asal jangan terlalu baik kepada orang yang menurut kita kurang pantas. Kita menghitung jam kerja rohani, lalu kesal melihat pendosa yang bertobat di menit terakhir disambut sama hangatnya.
Hari ini kita mengenang Santa Perawan Maria Ratu, yang dalam Magnificat justru memuji Allah yang mengangkat orang rendah. Sang Ratu bernyanyi tentang kemurahan, bukan hitung-hitungan.
Sungguhkah aku gembira ketika Tuhan bermurah hati kepada orang yang kuanggap kurang layak?
Tuhan, ampuni aku yang sering iri atas kebaikan-Mu kepada orang lain. Bebaskan hatiku dari hitung-hitungan upah, dan ajar aku bersukacita karena Engkau murah hati. Amin.