‹ Semua renungan

Senin, 20 Agustus 2029

Kambuh

Siapa pernah berhenti dari kebiasaan buruk tahu betapa liciknya kambuh. Rokok, misalnya. Atau amarah yang sama, kepada orang yang sama. Kita bertekad, berhasil beberapa minggu, merasa menang, lalu satu situasi lemah datang dan kita kembali ke titik awal. Bukan sekali. Berulang, seperti roda.

Kitab Hakim-Hakim adalah catatan panjang tentang kambuh. Polanya berulang hampir tanpa variasi. Umat meninggalkan Tuhan dan menyembah Baal. Mereka ditindas musuh. Dalam kesesakan mereka berseru. Tuhan berbelas kasihan, membangkitkan seorang hakim, menyelamatkan mereka. Lalu, 'apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat, lebih jahat dari nenek moyang mereka.'

Yang menyayat bukan kejatuhan pertama, melainkan kesetiaan yang hanya seumur pemimpin. Selama ada yang mengingatkan, mereka baik. Begitu penjaga itu tiada, mereka lupa secepat mungkin. Iman mereka bergantung pada pengawas, bukan pada cinta yang tumbuh dari dalam.

Namun perhatikan satu hal yang tak pernah kambuh: belas kasihan Tuhan. Setiap kali umat berseru, 'TUHAN berbelas kasihan mendengar rintihan mereka.' Kesabaran-Nya lebih panjang daripada catatan kegagalan mereka.

Hari ini kita mengenang Santo Bernardus, yang menulis begitu manis tentang mengasihi Allah karena Allah sendiri, bukan karena takut hukuman. Barangkali di situ obat kambuh: cinta yang tak butuh pengawas.

Kebaikanku selama ini bertahan karena cinta, atau hanya karena masih ada yang mengawasi?

Tuhan, Engkau tak pernah lelah menyambut aku kembali. Tumbuhkan dalam hatiku cinta yang tidak bergantung pada pengawas, supaya aku setia bukan karena takut, melainkan karena mengasihi Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →