Minggu, 19 Agustus 2029
Remah di Bawah Meja
Siapa yang memelihara anjing di rumah tahu adegan ini. Saat keluarga makan, si anjing menunggu di bawah meja, sabar, penuh harap, siapa tahu ada remah yang jatuh. Ia tidak menuntut kursi. Ia tahu tempatnya. Tetapi ia juga tahu, dari meja yang berlimpah, selalu ada yang berjatuhan.
Gambaran sederhana itu justru dipakai seorang ibu untuk memenangkan hati Yesus. Ia perempuan Kanaan, orang asing, bukan umat pilihan. Anaknya sakit, dan ia berseru tanpa malu. Mula-mula Yesus seolah dingin, bahkan berkata, 'Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.' Kalimat yang, sejujurnya, terdengar keras di telinga kita.
Tetapi perempuan itu tidak tersinggung dan tidak mundur. Ia menangkap kiasan Yesus dan membaliknya dengan cerdas: 'Benar, Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.' Ia seakan berkata, aku tak menuntut jatah anak-anak. Cukup remah-Mu, dan itu sudah lebih dari cukup untuk menyembuhkan anakku.
Yesus takjub. 'Hai ibu, besar imanmu.' Dan anaknya sembuh saat itu juga. Iman yang dipuji Yesus di sini bukan iman orang dalam yang merasa berhak, melainkan iman orang luar yang tahu ia tak berhak, namun percaya pada kemurahan yang meluap.
Bacaan pertama sudah membuka pintu itu lebar-lebar. Lewat Nabi Yesaya, Tuhan berkata tentang orang-orang asing yang mengikat diri kepada-Nya, 'rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.' Bukan rumah doa bagi satu golongan. Bagi segala bangsa. Tidak ada yang terlalu asing untuk mendekat.
Hari ini Gereja juga memandang Bunda Maria, yang diangkat ke dalam kemuliaan. Ia perempuan sederhana dari Nazaret, yang dalam Magnificat-nya justru memuji Allah yang meninggikan orang rendah dan mengenyangkan yang lapar. Maria dan perempuan Kanaan ini seirama: keduanya percaya bahwa kemurahan Allah lebih besar daripada kelayakan manusia.
Kita sering merasa terlalu kotor, terlalu jauh, terlalu telat untuk mendekat kepada Tuhan. Kita menempatkan diri di bawah meja. Tetapi perempuan Kanaan mengajar kita: dari bawah meja pun, iman masih bisa berseru, dan remah dari Tuhan cukup untuk mengubah hidup.
Adakah aku menahan diri mendekat kepada Tuhan hanya karena merasa tak cukup layak?
Tuhan, aku datang bukan karena layak, melainkan karena Engkau murah hati. Aku tak menuntut jatah besar, cukup remah dari meja-Mu, sebab satu remah-Mu pun sanggup menyembuhkan aku. Seperti Maria, ajar aku percaya pada belas kasih-Mu yang meluap. Amin.