Rabu, 15 Agustus 2029
Kubur yang Tak Bertanda
Ada satu detail yang mudah terlewat dalam kisah wafatnya Musa. Setelah memimpin umat empat puluh tahun, membelah laut, menerima hukum, ia mati di gunung Nebo. Tuhan sendiri yang menguburkannya. Dan Kitab Suci menutup dengan kalimat yang mengharukan: 'tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.'
Tokoh sebesar Musa, tanpa makam yang bisa diziarahi. Tanpa monumen, tanpa nama terpahat di batu. Seakan Tuhan sengaja menjaga agar umat tidak menyembah kuburannya, dan tetap menyembah Tuhannya.
Musa juga tidak sempat masuk ke tanah yang dijanjikan. Ia hanya diizinkan memandangnya dari kejauhan. 'Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.' Seluruh hidupnya menuju satu tujuan yang tidak ia injak sendiri. Yosua yang meneruskan.
Ada pelajaran yang sunyi di sini. Tidak semua yang kita rintis akan kita nikmati hasilnya. Orang tua menanam pohon yang buahnya dipetik cucu. Guru menabur pada murid yang kelak berbuah entah di mana. Kita bagian dari perjalanan yang lebih panjang dari umur kita.
Cukupkah bagiku menabur untuk panen yang mungkin tak sempat kulihat sendiri?
Tuhan, lepaskan aku dari keharusan menikmati sendiri setiap buah kerjaku. Cukupkan hatiku menjadi bagian kecil dari rencana-Mu yang jauh lebih panjang, dan percayakan sisanya kepada tangan-Mu. Amin.