Selasa, 14 Agustus 2029
Maju Selangkah
Di sebuah barisan tahanan, seorang perwira menunjuk sepuluh orang untuk dihukum mati kelaparan, sebagai pembalasan atas satu tahanan yang kabur. Salah satu yang ditunjuk menjerit, teringat istri dan anaknya. Lalu terjadi hal yang tidak ada dalam aturan mana pun. Seorang imam melangkah maju dari barisan dan berkata, 'Biarkan aku menggantikan dia.'
Imam itu Santo Maksimilianus Maria Kolbe, di kamp Auschwitz. Ia bukan ditunjuk. Ia menawarkan diri. Sebutir gandum yang memilih jatuh ke tanah, supaya seorang ayah bisa pulang bertahun kemudian dan menceritakan kisah ini kepada dunia.
Injil hari ini seakan ditulis untuk peristiwa itu. 'Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.' Dan lagi, 'Barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.'
Kita mudah mengagumi kepahlawanan seperti ini dari jauh, seolah hanya untuk orang suci. Padahal maju selangkah punya bentuk sehari-hari. Mengambil kesalahan yang sebenarnya bukan sepenuhnya milik kita. Memikul giliran orang yang kelelahan. Diam ketika membela diri akan menjatuhkan orang lain.
Barisan mana hari ini yang menanti seseorang berani maju selangkah, dan mungkinkah itu aku?
Tuhan, Engkau lebih dulu maju selangkah ke salib bagiku. Beri aku hati Kolbe, yang berani menggantikan, memikul, dan melepas nyawa dalam ukuran kecil sekalipun demi sesama. Amin.