‹ Semua renungan

Senin, 13 Agustus 2029

Tuhan yang Tak Bisa Disuap

Di negeri mana pun, orang tahu jalan pintas. Amplop yang diselipkan agar urusan lancar. Salam tempel supaya diprioritaskan. Kita hafal betul bahwa banyak pintu bisa dibuka bukan oleh kebenaran, melainkan oleh isi tas. Sampai-sampai kadang kita membayangkan Tuhan pun begitu: bisa dilunakkan dengan persembahan yang cukup besar.

Bacaan pertama menutup pintu itu rapat-rapat. 'TUHAN, Allahmu, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.' Lalu segera disambung dengan apa yang Ia bela: 'yang membela hak anak yatim dan janda, dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing.'

Betapa jauh dari gambaran dewa yang bisa dibeli. Allah Israel tidak bisa disogok justru karena Ia berpihak. Ia berpihak pada yang paling tak punya apa-apa untuk menyogok: yatim, janda, orang asing. Bagi mereka yang biasa kalah di meja mana pun, ada satu Hakim yang tak bisa dibeli lawan mereka.

Karena itu perintahnya, 'sunatlah hatimu dan janganlah lagi tegar tengkuk.' Bukan sekadar tanda lahiriah, melainkan hati yang dikupas dari kebiasaan mencari muka dan mengukur orang dari kegunaannya.

Bagaimana aku memperlakukan orang yang tak bisa memberiku keuntungan apa pun? Di situ, kata bacaan ini, watakku yang sebenarnya kelihatan.

Tuhan, Engkau tak bisa disuap dan tak memandang bulu. Sunatlah hatiku dari kebiasaan menghargai orang sebatas manfaatnya. Ajar aku berpihak seperti Engkau berpihak. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →