‹ Semua renungan

Minggu, 12 Agustus 2029

Angin Sepoi

Minggu lalu kita menyaksikan Yesus memberi makan lima ribu orang, mukjizat yang gegap gempita. Hari ini Injil membawa kita ke suasana sebaliknya: gelap, sunyi, perahu diombang-ambingkan angin sakal di tengah danau. Dari kelimpahan ke ketakutan, hanya berjarak beberapa ayat.

Kita hidup di zaman yang gemar pada yang besar dan riuh. Kabar dianggap penting kalau ramai dibicarakan. Doa dianggap dikabulkan kalau dramatis. Kita cenderung mencari Tuhan di tempat yang paling gaduh, paling menggemparkan.

Justru di situ bacaan pertama menegur lembut. Elia, nabi yang kelelahan dan nyaris putus asa, disuruh berdiri di gunung menantikan Tuhan. Datanglah angin besar yang membelah gunung. Tetapi 'tidak ada TUHAN dalam angin itu'. Lalu gempa. Tidak ada Tuhan dalam gempa. Lalu api. Tidak ada Tuhan dalam api. Baru sesudah semua kehebohan itu reda, datang 'bunyi angin sepoi-sepoi basa'. Dan di sanalah Elia menyelubungi mukanya, karena tahu Tuhan hadir.

Tuhan lewat, bukan dalam yang paling keras, melainkan dalam yang paling halus. Yang menuntut kita berhenti dan diam untuk bisa mendengar-Nya. Betapa mudah kita salah alamat. Kita mengira semakin dahsyat sebuah pengalaman, semakin pasti itu dari Tuhan. Padahal Elia justru menemukan-Nya sesudah semua yang megah itu berlalu, dalam bisik yang hampir tak terdengar.

Injil melengkapi dari sisi lain. Petrus berani turun dari perahu dan berjalan di atas air, selama matanya tertuju pada Yesus. Tetapi 'ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam'. Ia tidak tenggelam karena airnya bertambah dalam, melainkan karena perhatiannya berpindah, dari wajah Yesus ke bunyi angin.

Betapa mirip kita. Selama menatap Tuhan, badai pun bisa kita pijak. Begitu kita menghitung-hitung kerasnya angin, kita mulai karam. Dan syukurlah, doa Petrus paling pendek dan paling jujur di seluruh Injil: 'Tuhan, tolonglah aku!' Tiga kata, dan tangan Yesus segera terulur.

Barangkali kita perlu belajar dua hal sekaligus hari ini. Mencari Tuhan bukan melulu di kehebohan, melainkan di keheningan yang kita takuti. Dan ketika toh angin mengeraskan takut kita, tak perlu pidato panjang. Cukup, 'Tuhan, tolonglah aku.'

Di tengah hidup yang bising, kapan terakhir aku sengaja diam cukup lama untuk mendengar angin sepoi itu?

Tuhan, di dunia yang gaduh ini aku sering keliru mencari-Mu di tempat yang paling ramai. Ajarilah aku diam, agar aku mengenali suara-Mu yang halus. Dan ketika aku mulai tenggelam, ulurkan tangan-Mu sebelum aku sempat berpidato. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →