Sabtu, 11 Agustus 2029
Di Tiang Pintu
Ada keluarga Yahudi yang sampai hari ini menempelkan kotak kecil berisi gulungan ayat di tiang pintu rumah mereka. Setiap keluar masuk, tangan menyentuhnya. Kebiasaan itu lahir dari perintah yang kita dengar hari ini: 'Tuliskanlah pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.'
Tetapi sebelum sampai ke tiang pintu, perintahnya lebih dalam. 'Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu.' Lalu, 'ajarkanlah berulang-ulang kepada anak-anakmu, apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.' Duduk, berjalan, berbaring, bangun. Empat kata yang merangkum seluruh hari.
Iman tidak dimaksudkan tinggal di jam ibadat saja, lalu ditanggalkan seperti baju seragam. Ia dirancang menetes ke hal-hal paling remeh: obrolan di meja makan, doa singkat di perjalanan, ucapan sebelum tidur. Yang diwariskan kepada anak bukan terutama kotbah panjang, melainkan orang tua yang hidup seperti percaya.
Hari ini kita mengenang Santa Klara dari Asisi, yang meninggalkan kemewahan demi hidup miskin dan doa. Kekudusannya bukan ledakan sesaat, melainkan kesetiaan yang diulang setiap hari, seperti tangan yang menyentuh tiang pintu.
Ayat mana yang perlu kutempelkan bukan di dinding, melainkan di kebiasaan hari-hariku?
Tuhan, jangan biarkan kasihku kepada-Mu hanya berumur satu jam ibadat. Rekatkan Engkau pada duduk dan jalanku, pada baring dan bangunku. Amin.