‹ Semua renungan

Jumat, 10 Agustus 2029

Biji yang Berani Mati

Petani tahu satu paradoks yang tidak diajarkan di bangku sekolah dagang. Untuk menggandakan benih, benih itu justru harus dilepas, dibenamkan ke tanah, dibiarkan membusuk. Selama masih disimpan rapi di dalam karung, sebutir tetap sebutir. Ia baru berlipat setelah berani hilang.

Yesus memakai gambaran itu untuk diri-Nya, dan untuk kita. 'Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.' Hukum yang sama berlaku di ladang dan di hati manusia.

Hari ini kita mengenang Santo Laurensius, seorang diakon di Roma. Ketika penguasa menuntut agar ia menyerahkan harta Gereja, Laurensius mengumpulkan orang-orang miskin, para lumpuh dan pengemis, lalu berkata, 'Inilah harta Gereja.' Ia dihukum mati dengan kejam. Tetapi darahnya justru menyuburkan iman kota itu. Sebutir yang jatuh, panen yang meluas.

Bacaan pertama menegaskannya dengan bahasa tani: 'Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit, dan yang menabur banyak akan menuai banyak.' Dan Allah, kata Paulus, mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Kita cenderung menggenggam: waktu, tenaga, kasih. Takut kalau dilepas akan habis. Padahal yang digenggam terlalu erat justru mengering di tangan.

Benih apa dalam hidupku yang selama ini kutahan, padahal ia ingin kutanam?

Tuhan, ajarilah aku hukum benih. Beri aku keberanian melepas apa yang kugenggam, supaya di tanah-Mu ia berbuah berlipat ganda. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →