Selasa, 7 Agustus 2029
Bukankah Dengan Kita Juga
Ada percakapan yang dimulai dengan nada wajar tetapi berakhir merusak. Biasanya di antara orang-orang dekat. Di dapur, di teras, sesama saudara. 'Kok dia yang dipilih? Memangnya kita apa, kurang?' Dari benih iri sekecil itu, retak sebuah keluarga bisa bermula.
Bacaan pertama merekam adegan seperti itu di keluarga Musa. Miryam dan Harun, kakak-kakaknya sendiri, mulai bergunjing. 'Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga?' Alasannya soal istri Musa, tetapi lukanya lebih dalam: mereka merasa tersaingi oleh adik sendiri.
Yang menohok, Kitab Suci menyisipkan satu catatan: 'Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia di atas muka bumi.' Musa tidak membela diri. Justru ketika Miryam kena kusta, Musa yang berseru, 'Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.' Yang digunjingkan mendoakan yang menggunjing.
Iri hati memang licik. Ia menyamar sebagai keprihatinan, sebagai kritik yang masuk akal, padahal intinya cuma satu: mengapa bukan aku. Dan racun itu paling sering menetes di antara orang yang seharusnya saling menjaga.
Kalau hari ini ada nama yang membuat dadaku panas setiap kali disebut, mungkin di sanalah aku perlu berdoa lebih dulu, seperti Musa.
Tuhan, bersihkan hatiku dari iri yang menyamar sebagai kebenaran. Ajarilah aku mendoakan orang yang kucemburui, dan bergembira atas rahmat yang Kaulimpahkan pada sesamaku. Amin.