Senin, 6 Agustus 2029
Turun Gunung
Siapa yang pernah mendaki tahu godaan di puncak. Setelah lelah memanjat, akhirnya sampai. Udara dingin, awan di bawah kaki, matahari terbit membakar langit. Rasanya ingin memasang tenda dan tinggal selamanya. Sayang, tidak ada yang bisa hidup di puncak. Air habis, bekal menipis, dan jalan pulang menunggu.
Petrus merasakan persis itu di gunung. Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari, Musa dan Elia menemani. Spontan Petrus berkata, 'Tuhan, betapa bahagianya kami di sini. Biarlah kudirikan tiga kemah.' Ia ingin membekukan momen itu, menjadikannya rumah.
Tetapi suara dari awan tidak mengizinkan mereka menetap. 'Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.' Dan sesudah itu, mereka turun. Di kaki gunung sudah menunggu orang sakit, murid yang gagal, salib yang mendekat.
Bacaan pertama membuka tirai lebih jauh. Daniel melihat 'seorang seperti anak manusia' menerima kekuasaan kekal. Kemuliaan di gunung itu bukan liburan, melainkan sekejap bocoran akhir cerita. Cukup untuk menguatkan kaki menuruni lereng.
Kita pun kadang mengalami saat rohani yang begitu indah: rekoleksi yang menyentuh, doa yang terasa nyata. Godaannya sama, ingin tinggal di sana. Padahal iman diuji bukan di puncak, melainkan di kaki gunung, di antara tugas yang menunggu.
Bekal apa dari puncak yang mesti kubawa turun ke hari kerjaku esok?
Tuhan, terima kasih untuk saat-saat Engkau menyingkapkan kemuliaan-Mu. Kuatkan aku untuk turun gunung, membawa cahaya itu ke tempat yang gelap. Amin.