Minggu, 5 Agustus 2029
Selalu Ada Sisa
Siapa pernah punya hajatan tahu rasa cemas ini. Menjelang kondangan, tuan rumah menghitung ulang: cukupkah nasi, cukupkah lauk, bagaimana kalau tamu datang lebih banyak dari undangan? Lalu terjadilah hal yang sulit dijelaskan. Tamu membludak, piring terus keluar, dan di akhir acara panci masih ada isinya. Entah bagaimana, selalu ada sisa. Orang tua kita menyebutnya berkah.
Injil hari ini bergerak persis di ruang kecemasan itu. Hari mulai malam, tempat sunyi, dan lima ribu orang lebih belum makan. Murid-murid mengusulkan hal yang paling masuk akal: 'Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan.' Solusi ekonomi yang rapi. Tiap orang urus perutnya sendiri.
Tetapi Yesus menutup pintu itu. 'Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.' Kalimat yang nyaris tidak adil. Dengan apa? 'Yang ada pada kami hanya lima roti dan dua ikan.' Sebuah bekal yang lebih pantas ditertawakan daripada dibagikan.
Di sinilah kuncinya. Yesus tidak meminta mereka lebih dulu punya cukup. Ia hanya berkata, 'Bawalah ke mari kepada-Ku.' Yang sedikit itu diserahkan, ditengadahkan ke langit, diberkati, lalu dipecah-pecahkan. Dan lima ribu orang kenyang, dengan dua belas bakul sisa.
Bacaan pertama sudah menubuatkan logika terbalik ini. Lewat Nabi Yesaya, Tuhan berseru kepada orang yang tak punya uang: 'Marilah, terimalah gandum tanpa uang pembeli.' Di meja Tuhan, yang menentukan bukan isi dompet kita, melainkan kerelaan kita mendekat.
Kita gampang menunda berbuat baik dengan alasan belum mampu. Nanti kalau sudah kaya. Nanti kalau waktu lebih longgar. Nanti kalau ilmu sudah cukup. Padahal Tuhan tidak pernah menunggu kita cukup. Ia hanya menunggu kita menyerahkan yang lima roti dua ikan, apa adanya.
Dan bukankah begitu cara kerja belas kasihan? Yesus melihat orang banyak, 'tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan'. Dari hati yang tergerak itulah mukjizat dimulai, bukan dari gudang yang penuh. Bacaan kedua menaruh dasar yang paling dalam untuk keberanian memberi. Kata Paulus, tidak ada yang sanggup memisahkan kita dari kasih Kristus, tidak penindasan, tidak kelaparan, tidak pedang. Orang yang yakin dirinya dikasihi sedemikian rupa tidak lagi takut kekurangan. Ia berani membagi, sebab tahu ia sendiri tak pernah kekurangan kasih.
Hari ini, adakah kebaikan kecil yang bisa kuserahkan sekarang, sebelum aku merasa cukup?
Tuhan, aku sering menghitung kekuranganku sampai lupa menyerahkannya kepada-Mu. Ambillah yang sedikit ini, berkatilah, dan pecah-pecahkanlah bagi sesama. Biar aku belajar bahwa di tangan-Mu, yang kecil pun selalu bersisa. Amin.