Sabtu, 28 Juli 2029
Darah Perjanjian
Sebuah janji yang serius selalu ditandai dengan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Orang menandatangani surat, menekan cap jempol, atau berjabat tangan di depan saksi. Semakin besar janjinya, semakin sungguh tandanya. Di zaman dahulu, perjanjian yang paling mengikat dimeteraikan bukan dengan tinta, melainkan dengan darah, sebab darah adalah tanda hidup yang dipertaruhkan.
Di kaki Gunung Sinai, Musa memeteraikan perjanjian antara Allah dan umat dengan cara itu. Setelah bangsa itu berjanji, segala firman Tuhan akan kami lakukan, Musa mengambil darah korban, menyiramkan sebagian pada mezbah dan sebagian pada bangsa, sambil berkata, inilah darah perjanjian yang diadakan Tuhan dengan kamu. Satu darah menyatukan dua pihak: Allah di mezbah dan umat di hadapannya. Mereka kini terikat oleh ikatan hidup dan mati.
Kita yang membaca ini tidak bisa tidak teringat pada Perjamuan Malam Terakhir, ketika Yesus mengangkat cawan dan berkata, inilah darah-Ku, darah perjanjian. Perjanjian lama dimeteraikan dengan darah lembu jantan. Perjanjian baru dimeteraikan dengan darah-Nya sendiri. Kesungguhan kasih Allah diukur dari harga yang Ia bayar.
Dalam Injil, tuan ladang menahan diri untuk tidak mencabut lalang di antara gandum sebelum waktunya. Kesabaran itu pun bagian dari perjanjian: Allah setia menunggu, memberi kesempatan bertobat sampai masa menuai.
Janji setiaku kepada Tuhan hari ini, apakah hanya kata di bibir, atau sungguh kumeteraikan dengan hidup yang kupersembahkan?
Tuhan, Engkau memeteraikan perjanjian dengan darah-Mu sendiri. Buatlah aku setia pada bagianku, dengan sungguh melakukan firman yang telah kujanjikan. Amin.