‹ Semua renungan

Jumat, 27 Juli 2029

Rambu di Jalan

Tidak ada yang menganggap rambu lalu lintas sebagai musuh kebebasan. Garis di tengah jalan, lampu merah, tanda dilarang berhenti, semua itu justru membuat perjalanan mungkin. Bayangkan jalan raya tanpa satu pun aturan. Yang terjadi bukan kebebasan, melainkan tabrakan. Batas yang jelas ternyata melindungi, bukan memenjarakan.

Sepuluh Firman yang diberikan di Sinai adalah rambu semacam itu bagi kehidupan. Allah tidak memulainya dengan larangan, melainkan dengan pembebasan: Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah perbudakan. Baru sesudah itu datang perintah-perintahnya. Artinya, hukum ini bukan belenggu bagi budak, melainkan pagar bagi orang merdeka, supaya kemerdekaan mereka tidak berubah menjadi kekacauan yang saling melukai.

Perhatikan susunannya. Yang pertama mengatur hubungan dengan Allah, jangan ada allah lain, kuduskanlah hari Sabat. Yang berikut mengatur hubungan dengan sesama, hormatilah ayah dan ibumu, jangan membunuh, jangan mencuri. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama, dituliskan sebagai rambu yang bisa dipegang sehari-hari.

Dalam Injil, Yesus menjelaskan perumpamaan penabur. Firman yang jatuh di tanah baik berbuah, sementara yang lain dicekik semak duri kekhawatiran dan tipu daya kekayaan. Hukum Tuhan pun hanya berbuah pada hati yang menerimanya sebagai tanah yang baik, bukan sekadar daftar larangan yang ditakuti.

Apakah aku memandang perintah Tuhan sebagai belenggu yang membatasi, atau sebagai rambu yang menjaga kemerdekaanku agar tidak menabrak?

Tuhan, terima kasih untuk perintah-Mu yang menjaga langkahku. Tuliskanlah firman-Mu di hatiku, bukan sebagai beban, melainkan sebagai jalan menuju kemerdekaan sejati. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →