‹ Semua renungan

Kamis, 26 Juli 2029

Iman yang Diwariskan

Banyak dari kita mengenal Tuhan pertama kali bukan dari buku atau khotbah, melainkan dari pangkuan. Dari nenek yang mengajari tanda salib, dari kakek yang mengajak berdoa sebelum tidur. Iman sering diturunkan seperti pusaka keluarga, dari tangan ke tangan, tanpa banyak kata.

Hari ini kita mengenang Santo Yoakim dan Anna, orang tua Maria, kakek dan nenek Yesus menurut daging. Kita hampir tidak tahu apa-apa tentang mereka. Tetapi kita tahu buahnya: dari rumah mereka lahir Maria, dan dari Maria lahir Juruselamat. Iman yang mereka rawat diam-diam di rumah menjadi tanah tempat tumbuhnya pribadi yang berkata ya kepada Allah. Kesucian tidak selalu bersuara keras. Kadang ia bekerja lewat pengasuhan yang setia dan tak terlihat.

Bacaan pertama dari Kidung Agung melukiskan hati yang mencari kekasihnya: kucari dia, tetapi tak kutemui. Begitulah iman yang sejati, tidak pernah puas sebelum menemukan Tuhan, dan tidak melepaskan Dia setelah menemukan-Nya. Kerinduan seperti itulah yang pantas diwariskan kepada anak dan cucu.

Orang Jawa mengajarkan mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat tinggi jasa orang tua dan memendam dalam kekurangan mereka. Menghormati Yoakim dan Anna berarti menghargai semua tangan tua yang pernah menabur iman dalam diri kita.

Iman siapa yang telah diwariskan kepadaku, dan kepada siapa aku sedang menurunkannya hari ini?

Tuhan, terima kasih untuk tangan-tangan tua yang menabur iman dalam hidupku. Jadikanlah aku pewaris yang setia, yang meneruskan pencarian akan Engkau kepada generasi sesudahku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →