Senin, 23 Juli 2029
Menuntut Bukti
Zaman ini gemar menuntut bukti. Setiap klaim diminta tangkapan layar, setiap kabar diminta sumbernya. Sampai batas tertentu itu sehat, sebab kita tidak mudah ditipu. Tetapi ada penyakit yang menyusup: menuntut bukti bukan untuk percaya, melainkan untuk menunda percaya. Sudah cukup tanda di depan mata, tetapi selalu diminta satu tanda lagi.
Itulah yang dihadapi Yesus. Beberapa ahli Taurat dan orang Farisi berkata, Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu. Padahal Yesus sudah menyembuhkan, mengusir setan, dan mengajar dengan kuasa. Mereka bukan kekurangan bukti, mereka kelebihan penolakan. Maka Yesus menyebut mereka angkatan yang jahat dan tidak setia, dan berkata bahwa kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
Tanda itu ternyata bukan pertunjukan, melainkan salib dan kebangkitan. Seperti Yunus tinggal tiga hari di perut ikan, demikian Anak Manusia akan tinggal tiga hari di rahim bumi. Bukti terbesar dari Allah bukan keajaiban yang memuaskan rasa ingin tahu, melainkan kasih yang rela mati dan bangkit.
Bacaan pertama menampilkan kepercayaan jenis lain. Terjepit antara laut dan pasukan Firaun, Israel ketakutan. Tetapi Musa berkata, janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan. Iman bukan menuntut Tuhan membuktikan diri, melainkan berdiri tetap dan menyaksikan pekerjaan-Nya.
Adakah tanda yang masih kutunggu-tunggu dari Tuhan, padahal sebenarnya aku hanya sedang menunda untuk percaya?
Tuhan, sembuhkanlah aku dari kebiasaan menuntut bukti demi menunda percaya. Ajarilah aku berdiri tetap dan menyaksikan keselamatan-Mu. Amin.