‹ Semua renungan

Minggu, 22 Juli 2029

Biarkan Tumbuh Bersama

Petani yang mendapati lalang tumbuh di antara gandumnya menghadapi godaan yang wajar: cabut sekarang juga. Lalang itu pengganggu, ia menyerap air dan pupuk, ia mengotori ladang. Naluri pertama adalah membersihkannya secepat mungkin. Tetapi petani yang berpengalaman tahu satu masalah. Pada usia muda, lalang dan gandum begitu mirip, dan akarnya bisa saling berpaut. Mencabut lalang terlalu dini bisa ikut mencabut gandum yang sehat.

Itulah sebabnya tuan ladang dalam perumpamaan Yesus menahan hamba-hambanya. Jangan, katanya, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Kesabaran ini bukan karena tuan itu tidak peduli pada lalang, melainkan karena ia lebih peduli menyelamatkan gandum. Ia menunda penghakiman demi melindungi yang baik.

Kita kerap tidak sabar. Kita ingin dunia segera dibersihkan dari orang jahat, ingin batas antara yang benar dan yang salah dibuat setegas mungkin, sekarang juga. Padahal kita sendiri sering tidak bisa membedakan mana gandum mana lalang, sebab keduanya masih tumbuh bercampur, bahkan di dalam hati kita sendiri. Ada kesabaran ilahi yang memberi waktu untuk bertobat, waktu yang mungkin kita perlukan lebih dari yang kita sadari.

Orang Jawa punya ungkapan, becik ketitik ala ketara, yang baik pada akhirnya kelihatan dan yang jahat pada akhirnya ketahuan. Panen memang akan tiba. Pada waktunya lalang dan gandum akan dipisahkan dengan jelas oleh para penuai. Tetapi waktu itu ditentukan Tuhan, bukan oleh ketidaksabaran kita.

Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menerangi hati sang tuan ladang. Engkau, Penguasa yang kuat, mengadili dengan belas kasihan, dan dengan sangat hati-hati memperlakukan kami. Justru karena Allah berkuasa penuh, Ia mampu bersabar. Ia tidak perlu terburu-buru menghukum. Dan dari kesabaran itu Ia mengajar umat-Nya satu hal: orang benar harus sayang akan manusia. Kekuasaan sejati membuat orang menjadi lebih sabar, bukan lebih bengis.

Paulus menunjukkan bagaimana kesabaran itu ditopang. Di masa penantian yang panjang, ketika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan. Kita tidak menanggung masa tumbuh bersama itu sendirian. Ada Roh yang berdoa di dalam kita sementara ladang belum dituai.

Terhadap lalang di ladang dunia, dan lalang di dalam hatiku sendiri, apakah aku menuntut pencabutan seketika, atau belajar sabar seperti Tuhan yang memberi waktu untuk bertobat?

Tuhan yang mengadili dengan belas kasihan, ajarilah aku bersabar seperti Engkau. Bersihkanlah lalang di hatiku pada waktu-Mu, dan buatlah aku sayang kepada sesama sambil menanti panen-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →