‹ Semua renungan

Sabtu, 21 Juli 2029

Buluh yang Tidak Dipatahkan

Buluh yang sudah patah terkulai tampak tidak berguna. Orang cenderung mematahkannya sekalian, lalu membuangnya. Begitu pula sumbu pelita yang apinya tinggal berkedip, hampir padam, hanya mengeluarkan asap. Tangan yang tidak sabar akan memadamkannya saja, karena dianggap sudah tidak menyala lagi. Yang lemah biasanya disingkirkan lebih cepat.

Tetapi Injil hari ini menampilkan tangan yang lain. Mengutip nabi Yesaya, Matius melukiskan Hamba pilihan Allah: buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya. Yesus tidak memperlakukan orang lemah seperti barang rusak. Ia justru menopang yang nyaris patah dan menjaga yang nyaris padam, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.

Gambar itu terasa lembut di tengah suasana yang keras. Sebab pada ayat sebelumnya, orang Farisi baru saja bersekongkol hendak membunuh Yesus. Dan tanggapan Yesus bukan melawan dengan gaduh. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Kekuatan-Nya justru tampak dalam kelembutan yang tidak mematahkan.

Bacaan pertama mengenang malam keluarnya Israel dari Mesir, bangsa budak yang lemah dan tak berdaya, yang justru dipimpin Tuhan keluar menuju kemerdekaan. Allah memang gemar memihak yang patah dan pudar.

Adakah orang di sekitarku yang sedang seperti buluh patah dan sumbu pudar, yang kepadanya aku dipanggil untuk lembut, bukan mematahkan?

Tuhan, Engkau tidak mematahkan buluh yang terkulai dan tidak memadamkan sumbu yang pudar. Perlakukanlah aku demikian, dan ajarilah aku memperlakukan sesama yang lemah dengan kelembutan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →