‹ Semua renungan

Jumat, 20 Juli 2029

Makan Sambil Berdiri

Ada makan yang santai dan ada makan yang buru-buru. Orang yang hendak menempuh perjalanan jauh tidak makan sambil bersandar berlama-lama. Ia makan cepat, pakaian sudah dikenakan, sepatu sudah terpasang, barang sudah dikemas di dekat pintu. Cara ia makan menunjukkan bahwa ia sedang menunggu keberangkatan, bukan sedang berdiam.

Begitulah Allah menetapkan cara umat-Nya memakan Paskah pertama. Pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu, buru-burulah kamu memakannya. Ini bukan perjamuan orang yang mau menetap, melainkan bekal orang yang malam itu juga akan dibebaskan dari perbudakan. Darah anak domba dibubuhkan pada tiang pintu, dan Tuhan berjanji, apabila Aku melihat darah itu, Aku akan lewat dari pada kamu. Dari kata melewati itulah lahir nama Paskah.

Perjamuan itu mengajar sikap batin yang penting. Iman bukanlah keadaan orang yang sudah sampai dan bersantai, melainkan keadaan orang yang sedang dalam perjalanan, siap sedia, tidak terlalu betah pada perbudakan lama.

Dalam Injil, Yesus membela murid-murid-Nya yang memetik gandum di hari Sabat karena lapar. Ia mengingatkan bahwa yang Allah kehendaki ialah belas kasihan dan bukan sekadar aturan. Sabat, seperti Paskah, diberikan untuk membebaskan manusia, bukan membelenggunya. Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Apakah aku menjalani iman seperti orang yang siap berangkat, atau sudah terlalu betah pada perbudakan lama yang seharusnya kutinggalkan?

Tuhan, ikatkanlah pinggangku dan pasangkanlah kasut di kakiku. Bebaskanlah aku dari perbudakan lama, dan buatlah aku selalu siap mengikuti Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →