‹ Semua renungan

Kamis, 19 Juli 2029

Nama yang Tak Habis Diucapkan

Ketika bertemu orang baru, hal pertama yang kita tanyakan sering namanya. Nama membuat seseorang bisa dipanggil dan diajak bicara. Tanpa nama, orang tetap orang asing. Maka wajar bila Musa, sebelum berangkat mewakili Allah, ingin tahu satu hal: kalau umat bertanya siapa yang mengutusku, nama apa yang harus kusebut?

Jawaban Allah tidak seperti nama biasa. Aku adalah Aku. Beginilah kaukatakan kepada orang Israel, Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu. Sebuah nama yang bukan sekadar label, melainkan pernyataan tentang keberadaan yang tidak bergantung pada apa pun. Allah tidak ada karena disebut. Ia ada dari diri-Nya sendiri, kemarin, hari ini, dan selamanya. Nama itu terlalu penuh untuk dihabiskan oleh lidah manusia.

Namun Allah tidak berhenti pada rumusan yang tinggi itu. Ia segera menambahkan nama yang lebih hangat: Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Allah yang keberadaan-Nya tak terselami itu memperkenalkan diri lewat sejarah keluarga, lewat orang-orang yang pernah berjalan dengan-Nya. Ia mahatinggi sekaligus mahadekat.

Dalam Injil, Yesus mengucapkan undangan yang seakan menerjemahkan nama itu menjadi pelukan: marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Aku yang Aku itu ternyata lemah lembut dan rendah hati.

Nama Tuhan yang mana yang kubutuhkan hari ini: yang mahatinggi mengatasi segala persoalanku, atau yang mahadekat memanggilku dengan lembut?

Tuhan, Engkau yang menyebut diri Aku adalah Aku, dan juga Allah para leluhurku, datanglah dekat kepadaku yang letih ini dan berilah kelegaan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →