Rabu, 18 Juli 2029
Tanggalkan Kasutmu
Ada kebiasaan lama yang bertahan sampai sekarang: melepas alas kaki sebelum masuk ke tempat yang dihormati. Kita melepas sandal di depan pintu rumah orang, di serambi tempat ibadah, di ruang yang bersih. Melepas kasut adalah cara tubuh mengakui bahwa tempat ini bukan tempat biasa, dan bahwa aku datang bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai tamu yang menghormat.
Musa diminta melakukan hal yang sama di hadapan semak yang menyala tetapi tidak habis dimakan api. Janganlah datang dekat-dekat, firman Tuhan, tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu tanah yang kudus. Yang membuat tanah itu kudus bukan jenis tanahnya, melainkan kehadiran Allah di atasnya. Padang gurun yang biasa berubah menjadi ruang suci karena Tuhan menampakkan diri di sana.
Menarik bahwa perjumpaan agung ini terjadi ketika Musa sedang bekerja biasa, menggembalakan kambing domba mertuanya. Ia tidak sedang mencari penglihatan. Tuhan menghampirinya di tengah rutinitas, lalu mengubahnya menjadi panggilan seumur hidup.
Dalam Injil, Yesus bersyukur karena Bapa menyatakan rahasia-Nya bukan kepada orang bijak dan pandai, melainkan kepada orang kecil. Musa merasa dirinya kecil, siapakah aku ini, katanya. Tetapi justru kepada yang merasa kecil dan mau menanggalkan kasutnya itulah Allah menyatakan diri.
Di tanah biasa mana dalam hidupku, Tuhan sebenarnya sedang hadir, sehingga sudah waktunya aku menanggalkan kasut kesombonganku?
Tuhan, ajarilah aku menanggalkan kasut kesombongan di hadapan-Mu. Bukalah mataku untuk melihat bahwa tanah kerja sehari-hariku pun bisa menjadi tanah yang kudus karena kehadiran-Mu. Amin.