Selasa, 17 Juli 2029
Diselamatkan dari Air
Seorang ibu yang terpaksa menyembunyikan bayinya menempuh cara yang nekat sekaligus penuh perhitungan. Ia tidak asal membuang. Ia membuat peti pandan, memakalnya dengan gala-gala dan ter supaya tidak bocor, meletakkan bayinya di dalam, lalu menaruhnya di antara teberau di tepi sungai. Dan ia menyuruh anak perempuannya berdiri agak jauh, mengawasi apa yang akan terjadi. Sebuah tindakan putus asa yang tetap dibungkus kasih dan doa.
Sungai yang seharusnya menjadi tempat kematian, sebab Firaun memerintahkan agar bayi laki-laki Ibrani dibuang ke sana, justru menjadi jalan keselamatan. Puteri Firaun sendiri, dari keluarga yang membuat perintah kejam itu, yang menemukan dan memungutnya. Anak itu dinamai Musa, sebab katanya, aku telah menariknya dari air. Namanya sendiri menjadi peringatan: ia orang yang diselamatkan dari air, dan kelak ia akan membawa seluruh bangsanya melewati air laut menuju kemerdekaan.
Kadang Allah menyelamatkan justru lewat tempat yang paling kita takuti. Air yang mengancam menjadi air yang menyelamatkan. Tangan yang paling tidak kita duga, tangan musuh sekalipun, dipakai-Nya untuk memelihara hidup.
Dalam Injil, Yesus mengecam kota-kota yang menyaksikan begitu banyak mukjizat tetapi tidak bertobat. Keselamatan bisa lewat di depan mata, seperti peti di tepi sungai, dan tetap terlewatkan oleh yang menutup hati.
Di sungai mana dalam hidupku, yang kukira membawa maut, Allah sebenarnya sedang menyiapkan keselamatan?
Tuhan, Engkau menarik Musa dari air. Tariklah juga aku dari arus ketakutan yang menghanyutkanku, dan tunjukkanlah keselamatan yang Kausiapkan di tempat tak terduga. Amin.