‹ Semua renungan

Senin, 16 Juli 2029

Bukan Damai yang Murah

Ada damai yang sebenarnya hanya diam. Orang menahan diri bukan karena hatinya sudah berdamai, melainkan karena takut ribut, takut kehilangan kenyamanan, takut disebut mengganggu. Damai semacam itu tenang di permukaan, tetapi keropos di dalam.

Maka mengejutkan mendengar Yesus berkata, Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Kalimat itu terasa bertentangan dengan gelar-Nya sebagai Raja Damai. Tetapi Yesus sedang berbicara tentang harga sebuah kesetiaan. Iman yang sungguh sering justru menimbulkan perpisahan, bahkan di dalam satu rumah, karena tidak semua orang mau berjalan ke arah yang sama.

Yesus tidak sedang memuji pertengkaran. Ia sedang jujur bahwa mengikut Dia ada ongkosnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Bukan berarti kita berhenti mengasihi keluarga, melainkan bahwa kasih kepada Kristus harus menjadi yang tertinggi, yang menata semua kasih lain.

Bacaan pertama menampilkan damai palsu yang lain. Firaun baru merasa aman dengan menindas orang Israel, mengira ketenangan kerajaannya bisa dijaga dengan kerja paksa. Tetapi damai yang dibangun di atas penindasan tidak pernah benar-benar tenang. Makin ditindas, umat itu makin bertambah banyak.

Damai macam apa yang selama ini kupelihara: damai yang berani setia kepada Tuhan, atau damai yang hanya diam demi tidak kehilangan kenyamanan?

Tuhan, berilah aku keberanian memikul pedang salib-Mu, dan jangan biarkan aku puas dengan damai palsu yang lahir dari ketakutan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →