‹ Semua renungan

Minggu, 15 Juli 2029

Hujan yang Tidak Kembali Kosong

Petani menanti hujan dengan cara yang tidak dimengerti orang kota. Baginya hujan bukan gangguan yang membuat jemuran basah, melainkan janji yang turun dari langit. Ia tahu, air yang jatuh itu tidak akan naik lagi ke awan begitu saja. Ia meresap, membasahi tanah, membangunkan benih, dan berbalik menjadi tunas dan bulir. Hujan turun untuk melakukan sesuatu, lalu tidak kembali dengan tangan hampa.

Dengan gambar itulah Yesaya melukiskan firman Allah. Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku, ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia. Firman Allah bukan sekadar suara yang lewat. Ia bekerja, meresap, dan menghasilkan.

Tetapi Injil hari ini menambahkan satu kenyataan yang mengganggu. Firman yang mahakuat itu ternyata tidak selalu berbuah, dan bukan karena firmannya kurang bertenaga, melainkan karena tanahnya berbeda-beda. Perumpamaan penabur berbicara tentang empat jenis tanah. Ada tanah di pinggir jalan yang keras, sehingga benih dirampas burung. Ada tanah berbatu yang tipis, sehingga tunas layu waktu panas datang. Ada tanah bersemak duri, tempat kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman sampai tidak berbuah. Dan ada tanah yang baik, yang mendengar dan mengerti, lalu berbuah berlipat ganda.

Yang menarik, keempat tanah itu menerima benih yang sama. Perbedaannya bukan pada benihnya, melainkan pada kesediaan tanah untuk menerima. Hujan yang sama bisa menghidupkan sawah dan bisa mengalir sia-sia di atas aspal. Bukan salah hujannya. Aspal itu memang menolak meresap.

Maka pertanyaan yang jujur bukan apakah firman Tuhan berkuasa, melainkan tanah macam apa hatiku hari ini. Adakah bagian yang mengeras seperti jalan yang terlalu sering diinjak kesibukan? Adakah semak duri kekhawatiran yang perlahan mencekik benih yang sudah tumbuh?

Paulus mengingatkan bahwa seluruh ciptaan sedang mengeluh dan menantikan pembebasan, seperti perempuan yang sakit bersalin. Ada kesabaran ilahi di sini. Tanah yang keras masih bisa digemburkan, semak duri masih bisa dibersihkan. Selama hujan firman masih turun, selama itu pula hati kita masih bisa diubah menjadi tanah yang baik.

Bagian tanah mana dalam hatiku yang perlu kubongkar hari ini, supaya firman yang turun tidak mengalir pergi dengan sia-sia?

Tuhan, gemburkanlah tanah hatiku. Cabutlah semak duri kekhawatiranku dan pecahkanlah kekerasan yang menutup diriku, supaya firman-Mu meresap dan berbuah seratus kali lipat. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →