‹ Semua renungan

Sabtu, 14 Juli 2029

Seharga Burung Pipit

Di pasar, burung pipit termasuk barang yang paling murah. Dua ekor dijual seduit, kata Injil, sebuah harga yang nyaris tidak berarti. Burung sekecil itu tidak ada yang menghitungnya satu per satu. Kalau seekor mati, tidak ada yang mencatat. Ia hanya salah satu dari ribuan burung tanpa nama.

Justru burung yang tak terhitung itu dipakai Yesus untuk menghibur murid-murid-Nya. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Lalu puncaknya: dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

Kita hidup di zaman yang gemar mengukur harga diri dari angka: penghasilan, jabatan, jumlah orang yang mengenal kita. Orang yang merasa dirinya kecil dan tak diperhitungkan mudah menyimpulkan bahwa Tuhan pun tidak repot memikirkannya. Yesus membalik logika itu. Justru yang kecil dan terlupakan itulah yang dihitung rambutnya satu per satu.

Bacaan pertama menutup riwayat Yusuf dengan kalimat besar tentang penyelenggaraan Allah: kamu mereka-rekakan yang jahat, tetapi Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan. Tangan yang menghitung rambut kepala itu jugalah yang menata seluruh sejarah menuju kebaikan.

Ketika aku merasa hanya seekor pipit yang tak terhitung di keramaian dunia, beranikah aku percaya bahwa Bapa mengenalku sampai ke helai rambutku?

Tuhan, ketika aku merasa kecil dan terlupakan, ingatkanlah aku bahwa Engkau menghitung rambutku. Usirlah rasa takutku dengan kepastian bahwa aku berharga di mata-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →