‹ Semua renungan

Kamis, 12 Juli 2029

Akulah Yusuf

Ada tangis yang ditahan bertahun-tahun sampai akhirnya pecah. Orang yang lama menyimpan luka dan lama pula menyimpan kerinduan tahu bahwa keduanya bisa meledak bersama dalam satu saat. Bukan tangis kesedihan, bukan pula tangis kelegaan, melainkan campuran keduanya.

Itulah yang terjadi pada Yusuf. Ia tidak dapat lagi menahan hatinya di depan orang banyak. Ia menyuruh semua pelayan keluar, lalu menangis keras-keras sampai kedengaran ke seisi istana Firaun. Kemudian keluarlah kalimat yang dinanti-nanti pembaca sejak berpasal-pasal sebelumnya: Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Saudara-saudara yang dahulu membuangnya kini berdiri gemetar di hadapannya. Ia punya segala kuasa untuk membalas.

Tetapi yang keluar bukan balasan, melainkan penghiburan. Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, katanya, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Yusuf tidak menyangkal bahwa ia disakiti. Ia hanya mampu membaca tangan Allah di baliknya. Pengampunan lahir bukan dari melupakan luka, melainkan dari melihat maksud Allah yang lebih besar.

Dalam Injil, Yesus mengutus para murid dengan pesan hidup dari kemurahan: apa yang mereka terima cuma-cuma, hendaklah mereka berikan pula. Yusuf sudah lebih dulu menghidupinya, dengan memberi pengampunan dan gandum kepada orang yang paling tidak layak menerimanya.

Kepada siapa aku masih menahan tangis pengampunan, padahal Allah mungkin sedang memakai luka itu untuk kebaikan yang belum kumengerti?

Tuhan, berilah aku hati Yusuf, yang berani berkata kepada orang yang menyakitiku: janganlah bersusah hati. Ajarilah aku mengampuni dan melihat tangan-Mu di baliknya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →