Rabu, 11 Juli 2029
Doa dan Kerja
Ada gambar yang menempel pada Santo Benediktus yang kita kenang hari ini, yaitu dua kata yang seolah bertolak belakang: berdoa dan bekerja. Ora et labora. Ia mengajar para muridnya bahwa hidup rohani tidak dibangun dari doa saja atau kerja saja, melainkan dari keduanya yang saling menopang. Kebun tetap perlu dicangkul, dan jiwa tetap perlu berlutut.
Injil hari ini justru mempertemukan dua sisi itu. Yesus memanggil kedua belas murid, memberi mereka kuasa, lalu mengutus mereka bekerja: pergilah dan beritakanlah, Kerajaan Sorga sudah dekat. Kemarin kita mendengar Yesus berkata bahwa tuaian banyak tetapi pekerja sedikit, dan Ia menyuruh berdoa memohon pekerja. Hari ini pekerja itu ternyata adalah mereka sendiri yang tadi berdoa. Doa memohon pekerja seringkali dijawab dengan diutusnya si pendoa.
Bacaan pertama menampilkan Yusuf, yang bekerja setia di negeri asing sampai menjadi mangkubumi. Ketika saudara-saudara yang dahulu menjualnya datang kelaparan, ia tidak membalas dendam. Ia menahan tangis dan menyediakan gandum. Kerja yang sabar itu dipakai Allah untuk memelihara kehidupan banyak orang.
Kita kadang memisahkan yang rohani dan yang jasmani, seolah doa itu suci dan kerja itu urusan dunia. Benediktus dan Yusuf mengajar sebaliknya. Meja kerja bisa menjadi altar, dan cangkul menjadi bentuk doa, bila keduanya dipersembahkan kepada Tuhan.
Apakah kerjaku hari ini kulakukan seolah terpisah dari Tuhan, atau kupersembahkan sebagai kelanjutan dari doaku?
Tuhan, satukanlah doa dan kerjaku. Utuslah aku menjadi pekerja di ladang-Mu, di tempat aku berada sekarang. Amin.