Senin, 9 Juli 2029
Tangga di Atas Bantal Batu
Tidak ada bantal yang lebih tidak nyaman daripada batu. Tetapi itulah yang dipakai Yakub malam itu. Ia sedang melarikan diri, jauh dari rumah, matahari sudah terbenam, dan ia hanya menemukan sebuah batu untuk alas kepala. Sebuah gambar tentang orang yang hidupnya sedang di titik terendah: kabur, sendirian, di tempat antah-berantah.
Justru di tempat seburuk itu Yakub bermimpi melihat sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dengan malaikat-malaikat turun naik. Dan Tuhan berdiri di sampingnya, berjanji: sesungguhnya Aku menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi. Bangun dari tidurnya, Yakub berkata dengan takjub, sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.
Kalimat itu sering menjadi kalimat kita juga. Tuhan ternyata sudah hadir di ruang tunggu rumah sakit, di malam yang kita lalui sambil menangis, dan kita tidak mengetahuinya. Kita mengira Tuhan hanya ada di tempat yang rapi dan suci, padahal Ia justru sering menemui orang yang sedang beralas batu.
Yakub menamai tempat itu Betel, yang berarti rumah Allah. Ia mengubah tempat pelarian menjadi tempat perjumpaan. Dalam Injil, perempuan yang dua belas tahun sakit pun percaya bahwa cukup menjamah jubah Yesus, dan keramaian biasa itu berubah menjadi tempat kesembuhan.
Di titik terendah hidupku, di atas bantal batu yang mana, sebenarnya Tuhan sedang berdiri di sampingku tanpa kusadari?
Tuhan, bukalah mataku untuk melihat bahwa Engkau hadir bahkan di tempatku yang paling gersang. Jadikanlah setiap tempat pelarianku menjadi Betel, rumah perjumpaan dengan-Mu. Amin.