Minggu, 8 Juli 2029
Kuk yang Enak
Petani yang biasa membajak dengan sepasang sapi tahu satu hal yang sering luput dari orang kota: kuk yang baik justru meringankan. Kuk adalah kayu melintang yang dipasang di leher dua ekor sapi supaya beban tarikan terbagi rata. Kalau kuknya kasar dan tidak pas, leher sapi lecet dan tenaganya terbuang. Tetapi kuk yang dipahat baik membuat dua ekor sapi menarik bajak seperti satu tubuh, dan pekerjaan yang berat menjadi mungkin. Kuk bukan alat penyiksa. Ia alat yang membagi beban.
Maka ketika Yesus berkata, pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, Ia tidak sedang menawarkan penderitaan tambahan. Ia sedang menawarkan cara memikul yang berbeda. Kuk-Nya enak dan beban-Nya ringan bukan karena hidup tiba-tiba tanpa beban, melainkan karena di sebelah kita ada Dia yang ikut menarik. Kita tidak lagi membajak sendirian.
Undangan itu ditujukan kepada orang tertentu: semua yang letih lesu dan berbeban berat. Bukan kepada yang kuat dan yang merasa mampu, melainkan kepada yang sudah kehabisan tenaga. Dan syaratnya sederhana, belajar pada Yesus yang lemah lembut dan rendah hati. Sebab beban paling berat sering bukan pekerjaan itu sendiri, melainkan kesombongan yang menolak dibantu, dan kekhawatiran yang menolak berserah.
Nabi Zakharia sudah melukiskan Raja yang seperti itu jauh sebelumnya. Lihat, rajamu datang kepadamu, ia adil dan jaya, ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai. Raja-raja lain datang dengan kuda perang dan kereta besi, memberatkan pundak rakyatnya dengan pajak dan ketakutan. Raja ini datang di atas keledai, hewan beban yang rendah, dan justru Dialah yang melenyapkan kereta perang dan busur. Kelemahlembutan-Nya bukan kelemahan. Itu kekuatan yang memilih tidak menindas.
Paulus menambahkan dari sisi yang lain. Ada dua cara hidup, menurut daging atau menurut Roh. Hidup menurut daging adalah hidup yang segala-galanya dipikul sendiri, diperbudak oleh keinginan dan ketakutan yang tak pernah puas. Hidup menurut Roh adalah hidup yang membiarkan Roh Allah diam di dalam kita dan ikut menanggung. Roh yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati itulah yang akan menghidupkan juga tubuh kita yang fana.
Di sinilah ketiga bacaan bertemu. Kita diundang menukar kuk. Menanggalkan kuk buatan sendiri yang melecetkan leher, yaitu ambisi, dendam, dan kekhawatiran, lalu memasang kuk Kristus yang lemah lembut. Bukan supaya kita berhenti bekerja, melainkan supaya kita bekerja bersama Dia.
Kuk apa yang selama ini kupasang sendiri di leherku, sampai aku letih lesu tanpa perlu?
Tuhan Yesus yang lemah lembut, ambillah kuk berat yang kupasang sendiri, dan pasangkanlah kuk-Mu di leherku. Ajarilah aku membajak hidup ini bersama Engkau. Amin.