Sabtu, 7 Juli 2029
Bukan Lagi Pendatang
Orang yang pernah merantau tahu rasanya menjadi pendatang. Ada rumah yang ditumpangi, tetapi bukan milik sendiri. Ada tetangga yang ramah, tetapi tetap terasa jarak. Setiap kali ada acara kampung, hati bertanya-tanya, apakah aku benar-benar termasuk di sini, atau hanya numpang lewat. Menjadi orang asing itu melelahkan, karena harus terus-menerus membuktikan diri.
Kepada orang-orang yang merasa seperti itu, Surat Efesus hari ini berbicara dengan lembut: demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah. Perhatikan kata sewarga dan anggota keluarga. Kita bukan tamu yang ditoleransi di rumah Tuhan. Kita penghuni yang sah, terdaftar, punya tempat.
Paulus melanjutkan dengan gambar bangunan. Kita dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru, dan di dalam Dia seluruh bangunan tumbuh menjadi bait Allah yang kudus. Artinya, kita bukan hanya tinggal di rumah Allah, kita sendiri sedang dijadikan rumah itu. Tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
Betapa sering kita hidup seolah masih pendatang di hadapan Tuhan, ragu apakah pantas mendekat, takut menyapa Bapa terlalu akrab. Padahal status kita sudah diubah oleh Kristus. Kita anak, bukan tamu. Rumah ini rumah kita.
Masihkah aku memperlakukan diri sebagai orang asing di hadapan Allah, padahal Ia sudah menyebutku anggota keluarga-Nya?
Tuhan, terima kasih karena Engkau menjadikanku bukan lagi pendatang, melainkan anak di rumah-Mu. Buatlah aku betah tinggal di dekat-Mu. Amin.