‹ Semua renungan

Rabu, 4 Juli 2029

Sumur di Padang Gurun

Orang yang pernah kehausan tahu bahwa air adalah soal hidup dan mati, bukan sekadar penyegar. Di padang yang kering, sebuah sumur berarti selamat, dan tak adanya air berarti tamat. Karena itu ada ketakutan khas orang tua: bukan takut untuk dirinya sendiri, melainkan takut melihat anaknya menderita tanpa bisa berbuat apa-apa.

Itulah yang dialami Hagar. Diusir dengan sekirbat air, ia mengembara sampai airnya habis. Lalu ia membaringkan anaknya di bawah semak dan duduk agak jauh, sebab katanya, tidak tahan aku melihat anak itu mati. Dalam keputusasaan seperti itu, orang merasa Allah sudah pergi. Tetapi justru di titik itu tertulis kalimat yang mengejutkan: Allah mendengar suara anak itu.

Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur. Perhatikan, Kitab Suci tidak berkata Allah menciptakan sumur baru. Allah membuka matanya. Sumur itu boleh jadi sudah ada sejak tadi, tetapi mata yang penuh air mata tidak melihatnya. Kadang pertolongan Tuhan sudah dekat, hanya kita terlalu tenggelam dalam ketakutan untuk menyadarinya.

Dalam Injil, warga Gadara justru sebaliknya. Yesus baru membebaskan dua orang dari cengkeraman setan, tetapi mereka hanya menghitung babi yang hilang, lalu meminta Yesus pergi. Mata mereka tertutup pada keselamatan yang berdiri di depan.

Sumur apa yang sebenarnya sudah Tuhan sediakan di dekatku, tetapi belum kulihat karena mataku penuh kekhawatiran?

Tuhan, bukalah mataku seperti Engkau membuka mata Hagar. Tunjukkanlah sumur yang telah Kausediakan, supaya aku dan orang yang kukasihi boleh hidup. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →