‹ Semua renungan

Minggu, 1 Juli 2029

Kamar untuk yang Lewat

Di rumah-rumah kampung dahulu sering ada satu kamar yang jarang dipakai penghuninya sendiri. Kamar tamu. Isinya sederhana saja: sebuah dipan, meja kecil, sebuah kursi, dan lampu di sudut. Kamar itu disiapkan bukan untuk kenyamanan pemilik rumah, melainkan untuk orang yang kebetulan lewat dan perlu tempat berteduh. Rumah yang menyediakan kamar semacam itu adalah rumah yang hatinya sudah lebih dulu terbuka.

Bacaan pertama menceritakan persis kamar seperti itu. Perempuan kaya di Sunem menyadari bahwa Elisa, orang yang kerap singgah, adalah abdi Allah. Maka ia berkata kepada suaminya: baiklah kita membuat sebuah kamar kecil, kita taruh di sana sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil. Ia tidak meminta apa-apa. Ia hanya menyediakan tempat. Dan justru dari kamar kecil yang tidak menuntut balasan itu lahirlah janji yang paling ia rindukan: tahun depan engkau akan menggendong seorang anak laki-laki.

Yesus dalam Injil seakan sedang menjelaskan hukum yang bekerja di balik kamar itu. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi. Dan puncaknya kalimat yang menghibur ini: barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil, ia tidak akan kehilangan upahnya. Secangkir air. Sesuatu yang begitu kecil sampai kita lupa menghitungnya. Tetapi di mata Allah tidak ada kebaikan yang jatuh ke tanah dan hilang.

Kita mudah mengira bahwa untuk berkenan kepada Tuhan diperlukan perbuatan yang besar dan mengesankan. Kita menunggu punya banyak, punya waktu luang, punya kelebihan, baru merasa layak berbagi. Padahal yang diminta hanya kesediaan menyisihkan tempat: sepetak waktu, sedikit perhatian, secangkir air bagi yang haus. Perempuan Sunem tidak menunggu kaya raya untuk membangun kamar itu, dan orang yang memberi secangkir air tidak perlu menunggu sumur sendiri. Menyambut orang lain ternyata cara paling sederhana untuk menyambut Kristus sendiri, sebab kata-Nya, barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.

Paulus mengingatkan dari mana kesediaan itu bersumber. Kita telah dibaptis dalam kematian Kristus supaya hidup dalam hidup yang baru. Orang yang sudah menerima hidup baru tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Ia punya ruang untuk orang lain, karena hatinya sudah lebih dulu digusur dan diisi oleh Kristus.

Adakah kamar dalam hidupku yang masih kukunci rapat, padahal ada orang kecil yang hanya butuh secangkir air dariku?

Tuhan, bukalah hatiku seperti kamar yang selalu siap bagi yang lewat. Ajarilah aku menyambut sesama, sebab dengan begitu aku menyambut Engkau. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →