Rabu, 13 Juni 2029
Huruf dan Napas
Perhatikan rambu larangan parkir di pinggir jalan. Selama ada petugas, semua tertib. Begitu petugas pergi, mobil berjajar lagi tepat di bawah rambu itu. Hurufnya terpasang, napasnya tidak ada.
Paulus menyebut gejala itu dengan kalimat yang tajam: hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan. Huruf hanya bisa menempel di luar, seperti rambu. Roh bekerja dari dalam, seperti selera. Orang yang tertib karena takut akan berhenti tertib begitu tidak ada yang melihat. Orang yang tertib karena mencintai akan tetap tertib bahkan dalam gelap.
Kemarin Yesus menyebut kita garam dan terang. Hari ini Ia menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan menggenapinya. Menggenapi itu menarik: bukan menghapus huruf, melainkan mengisinya dengan napas. Larangan membunuh digenapi menjadi hati yang tidak menyimpan amarah. Aturan tidak dibuang; aturan diberi jantung.
Maka ada baiknya kita periksa ketaatan kita sendiri. Kita tidak korupsi karena takut tertangkap, atau karena mencintai kejujuran? Kita ke gereja karena kewajiban, atau karena rindu? Jawabannya menentukan apakah iman kita hidup atau sekadar terpasang rapi.
Roh Allah yang menghidupkan, isilah setiap aturan yang kutaati dengan napas kasih, supaya ketaatanku sungguh hidup, bukan sekadar rapi. Amin.