Selasa, 12 Juni 2029
Ya yang Utuh
Nanti saya usahakan. Kita semua paham arti kalimat itu. Di banyak tempat, itu cara halus untuk berkata tidak. Bahasa kita kaya akan ya yang sebenarnya bukan ya.
Rupanya jemaat Korintus pernah menyangka Paulus bermain di wilayah itu. Ia berjanji datang, lalu berubah rencana, dan orang mulai berbisik: janjinya ya dan tidak. Paulus menjawab dengan meletakkan taruhan yang jauh lebih besar daripada agenda perjalanannya: demi Allah yang setia, pemberitaan kami bukan ya dan tidak. Sebab Kristus yang kami wartakan bukanlah ya dan tidak. Di dalam Dia hanya ada ya. Semua janji Allah menemukan ya-nya dalam Kristus. Karena itulah setiap kali kita menutup doa dengan amin, sesungguhnya kita ikut menandatangani ya itu.
Kemarin kita mendengar Sabda Bahagia dibuka di atas bukit. Hari ini Yesus melanjutkan: kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia. Garam yang tawar dan pelita di bawah gantang itu saudara kandung dari ya yang tidak utuh: ada wujudnya, hilang fungsinya.
Dunia tidak menuntut orang beriman serba hebat. Dunia hanya rindu bertemu orang yang ya-nya bisa dipegang.
Tuhan Yesus, Engkaulah Ya Allah bagi kami. Jadikanlah kata-kataku dan hidupku satu warna. Amin.