Rabu, 6 Juni 2029
Dua Doa yang Bertemu
Kemarin kita meninggalkan Tobit dalam keadaan getir: buta, tersinggung, bertengkar dengan istrinya. Hari ini kegetiran itu menjadi doa. Ia minta mati saja.
Pada hari yang sama, di kota lain yang jauh, seorang perempuan muda bernama Sara juga berdoa dengan hati remuk. Tujuh kali menikah, tujuh kali suaminya mati, dan ia dituduh pembunuhnya. Dua orang yang tidak saling mengenal, dipisahkan ratusan kilometer, sama-sama merasa hidupnya tamat.
Lalu penulis kitab Tobit menuliskan kalimat yang mencengangkan: pada saat itu juga doa keduanya dikabulkan di hadapan kemuliaan Allah. Diutuslah Rafael. Dua doa yang naik dari dua titik bumi ternyata mendarat di satu meja. Dan jawabannya dirajut menjadi satu kisah: kesembuhan Tobit dan jodoh Sara kelak bertemu dalam satu rencana.
Bukankah ini menghibur? Doa kita tidak melayang sendirian. Di tempat lain ada orang asing yang keluhannya sedang dianyam Allah bersama keluhan kita. Kita hanya melihat benang kusut di sisi bawah; Allah melihat pola di sisi atas.
Dalam Injil Yesus menegaskan kepada orang Saduki: Allah bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Termasuk mereka yang doanya baru dijawab bertahun-tahun kemudian.
Allah orang hidup, ketika doaku terasa buntu, ingatkanlah aku bahwa Engkau sedang menganyamnya dengan doa orang lain. Amin.