Selasa, 5 Juni 2029
Saleh tapi Curiga
Tobit orang baik. Ia menguburkan orang mati dengan taruhan nyawa, setia pada hukum, rajin sedekah. Lalu apa upahnya? Kotoran burung jatuh ke matanya dan ia buta. Empat tahun. Keluarganya hidup dari jerih payah istrinya, Hana.
Dan di titik itulah kisah hari ini menusuk. Ketika Hana pulang membawa upah ditambah seekor anak kambing hadiah dari pemesan, Tobit tidak percaya. Itu pasti curian, kembalikan! Orang yang paling saleh di kotanya ternyata bisa menuduh istrinya sendiri. Hana menjawab pedas: di mana gerangan kebajikanmu?
Pertanyaan itu layak kita simpan. Penderitaan yang panjang memang bisa membuat orang baik menjadi masam. Kesalehan yang dulu lentur berubah kaku, lalu curiga. Merasa paling benar, dan mulai mengukur semua orang dengan kecurigaan. Padahal kebajikan yang asli justru teruji di sini: masih bisakah kita berpikir baik tentang orang lain ketika hidup sedang pahit?
Dalam Injil, Yesus ditanya soal pajak oleh orang-orang yang pura-pura hormat. Ia menjawab tenang, tanpa terpancing curiga dan dendam. Berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah: termasuk hati yang tetap jernih. Santo Yustinus, yang kita kenang hari ini, membawa kejernihan semacam itu sampai ke hadapan algojonya.
Tuhan, ketika hidupku pahit, jagalah hatiku agar tidak ikut pahit. Amin.