Senin, 4 Juni 2029
Sukacita yang Berjalan
Orang Jawa punya kebiasaan yang sederhana tapi dalam: tilik. Menjenguk. Ada yang melahirkan, ditilik. Ada yang sakit, ditilik. Yang dibawa kadang hanya gula dan teh, tetapi yang sampai jauh lebih besar: kamu tidak sendirian.
Hari ini Gereja mengenang Maria yang berjalan ke pegunungan Yehuda, menempuh perjalanan berhari-hari, untuk menilik Elisabet. Perhatikanlah arah kisahnya. Maria baru saja menerima kabar terbesar sepanjang sejarah: ia mengandung Anak Allah. Kalau kita yang menerima kabar itu, mungkin kita minta dijenguk, dilayani, dihormati. Maria justru bergegas keluar. Sukacita yang sejati rupanya tidak betah duduk. Ia berjalan mencari orang lain.
Dan lihat apa yang terjadi ketika sukacita itu tiba. Belum ada kata-kata besar, baru salam biasa, tetapi bayi dalam rahim Elisabet melonjak. Zefanya dalam bacaan pertama melukiskan Allah yang bersorak-sorak karena umat-Nya. Di rumah Zakharia, sorak itu menjadi nyata dalam wujud paling kecil: tendangan bayi.
Kabar gembira memang menular lewat kunjungan, bukan lewat pengumuman. Siapa yang sudah lama menunggu kita datang? Orang tua? Kawan lama yang sakit? Jangan tunggu sempat. Maria pun sedang hamil muda ketika berangkat.
Tuhan, jadikanlah kakiku pembawa sukacita-Mu, dan salamku pintu bagi Roh-Mu. Amin.