Minggu, 3 Juni 2029
Semeja dengan-Nya
Di kampung, perkara penting jarang selesai lewat surat. Selesainya di meja makan. Dua keluarga yang berselisih dianggap benar-benar rukun kembali bukan ketika tanda tangan dibubuhkan, melainkan ketika mereka mau makan dari hidangan yang sama. Sebab makan bersama itu bahasa tubuh yang paling tua: kamu kuterima.
Hari ini Yesus melihat Matius duduk di rumah cukai dan berkata dua kata saja, ikutlah Aku. Sesudah itu, hal pertama yang mereka lakukan bukan seminar, bukan latihan rohani. Makan. Di rumah Matius, bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Orang Farisi terganggu, dan protes mereka masuk akal menurut ukuran zamannya: guru macam apa yang mau semeja dengan orang kotor? Jawaban Yesus tidak berbelit. Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.
Lalu Ia mengutip Hosea, bacaan pertama kita: yang Kukehendaki ialah belas kasihan, bukan persembahan. Allah rupanya tidak sedang mengumpulkan setoran. Ia sedang mencari kenalan. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN, ajak Hosea. Dan di mana orang saling mengenal paling dalam kalau bukan di meja, sambil makan, tanpa jabatan dan tanpa panggung?
Hari raya Tubuh dan Darah Kristus menyingkapkan pilihan Allah yang mencengangkan. Dari semua cara untuk tinggal bersama manusia, Ia memilih menjadi makanan. Bukan monumen yang dipandang dari jauh. Bukan pusaka yang disimpan dan dikeluarkan setahun sekali. Makanan, yang justru baru berguna kalau disantap, dikunyah, dan menjadi darah daging orang yang memakannya. Ekaristi adalah meja Matius yang diteruskan sampai hari ini. Setiap misa, undangan yang sama diulang: yang sakit, yang gagal, yang malu, mendekatlah.
Karena itu kita perlu jujur setiap kali maju menyambut komuni. Kita maju bukan karena sudah layak, seperti orang Farisi yang merasa sehat. Kita maju karena sakit dan tahu di mana tabibnya. Bukankah itu yang kita ucapkan persis sebelum menyambut? Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja.
Paulus dalam bacaan kedua memuji Abraham yang berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap. Iman semacam itulah yang kita bawa ke meja Tuhan: percaya bahwa sepotong roti kecil sanggup mengubah manusia, pelan-pelan, dari dalam.
Sesudah misa, meja itu tidak boleh berhenti di gereja. Siapa orang yang selama ini kita anggap tidak pantas semeja dengan kita? Barangkali dari sanalah Tubuh Kristus mulai kelihatan di rumah kita.
Tuhan Yesus, Engkau memilih menjadi makanan agar hidup-Mu mengalir dalam tubuhku. Jadikanlah mejaku seluas meja-Mu. Amin.