Senin, 28 Mei 2029
Dipandang dengan Kasih
Sebelum seorang bapak menyampaikan nasihat yang paling berat kepada anaknya, biasanya ada satu jeda kecil. Ia memandang anak itu lama-lama, dan dalam tatapan itu ada kasih sebelum ada teguran. Kata-kata keras yang lahir dari pandangan penuh kasih terasa berbeda dari kata-kata keras yang lahir dari kejengkelan.
Seorang muda berlari mendapatkan Yesus, bertelut, dan bertanya apa yang harus ia perbuat untuk memperoleh hidup kekal. Ia sudah menuruti segala perintah sejak kecil. Lalu Markus mencatat satu detail yang mudah terlewat: Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya. Barulah sesudah pandangan kasih itu Ia berkata, hanya satu lagi kekuranganmu, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah kepada orang miskin, lalu ikutlah Aku.
Undangan yang berat itu bukan hukuman. Ia lahir dari kasih. Yesus tidak sedang menjatuhkan orang muda itu, Ia sedang menawarkan kebebasan. Sayang, ia pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Bukan Yesus yang mengusirnya, melainkan hartanya sendiri yang menahannya di tempat.
Lalu datang kalimat yang terkenal itu: lebih mudah unta melewati lubang jarum daripada orang kaya masuk Kerajaan Allah. Bukan karena harta itu jahat, melainkan karena beban yang kita peluk erat sering membuat kita tak muat lewat pintu yang sempit. Ketika murid-murid gempar, Yesus menutup dengan harapan: bagi manusia hal itu mustahil, tetapi tidak bagi Allah.
Tuhan, pandanglah aku dengan kasih, dan berilah aku keberanian melepaskan apa pun yang membuatku tak muat masuk kepada-Mu. Amin.