‹ Semua renungan

Minggu, 27 Mei 2029

Kasih yang Tak Bisa Dikurung

Ada rumah-rumah yang kehangatannya terasa bahkan oleh tamu yang baru masuk. Bukan karena perabotnya mahal, melainkan karena penghuninya saling mengasihi dengan tulus, dan kasih itu tidak habis di antara mereka sendiri. Ia meluap, menyapa siapa pun yang datang, membuat orang asing pun merasa diterima. Kasih yang sejati memang selalu begitu: ia tidak bisa dikurung, ia meluap keluar.

Pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus, itulah kira-kira rahasia yang kita rayakan tentang Allah. Ia bukan penguasa tunggal yang duduk sendirian di takhta, dingin dan berjarak. Sejak kekal Ia adalah persekutuan kasih: Bapa, Putra, dan Roh Kudus, saling mengasihi tanpa henti. Dan kasih yang sepenuh itu tidak mungkin tinggal di dalam diri sendiri. Ia meluap keluar, menciptakan kita, lalu bergembira atas kita.

Nabi Zefanya menangkap luapan itu dengan gambar yang nyaris terlalu berani. TUHAN Allahmu ada di antaramu, tulisnya, Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya. Bukan pertama-tama kita yang bersukacita atas Allah, melainkan Allah yang lebih dulu bersukacita atas kita. Betapa jauh gambar ini dari bayangan umum tentang tuhan yang selalu menghakimi dengan wajah masam.

Injil hari ini memperlihatkan tanggapan manusia atas luapan itu. Ketika Maria dipenuhi Allah, sukacita itu langsung menular. Jiwaku memuliakan Tuhan, serunya, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. Dan perhatikan, sukacita itu tidak ia simpan. Ia bergegas ke rumah Elisabet, dan kegembiraan itu meluap sampai bayi dalam kandungan pun ikut melonjak. Kasih Allah yang meluap menciptakan lagi luapan pada manusia.

Dan kita pun sebenarnya diciptakan menurut gambar persekutuan itu. Karena itu tidak ada seorang pun yang bisa sungguh bahagia sendirian, terkurung dalam dirinya. Kita menjadi paling serupa dengan Allah justru ketika kasih kita tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan mengalir kepada orang lain.

Inilah yang membedakan iman kita. Di pusat segala yang ada bukan kekosongan dingin atau aturan kaku, melainkan tiga Pribadi yang saling mengasihi, yang menarik kita masuk ke dalam persekutuan-Nya. Kita diciptakan bukan sebagai penonton dari luar pagar, melainkan sebagai yang diundang masuk ke dalam lingkaran kasih itu.

Maka merayakan Tritunggal bukan soal memahami rumus yang sulit, melainkan soal membiarkan diri ditarik masuk ke dalam kasih yang saling meluap itu, lalu ikut meluapkannya kepada orang di sekitar kita. Hari ini, kepada siapa kasih itu bisa kita teruskan?

Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, tariklah aku masuk ke dalam persekutuan kasih-Mu yang meluap, dan jadikanlah aku saluran luapan itu bagi sesama. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →