‹ Semua renungan

Jumat, 25 Mei 2029

Sahabat Hari Susah

Ada pepatah lama yang tidak pernah keliru: teman sejati kelihatan bukan di hari pesta, melainkan di hari susah. Waktu rezeki lancar, meja kita ramai. Begitu keadaan berbalik, meja itu sering mendadak lengang. Kesulitan adalah saringan yang paling jujur untuk sebuah persahabatan.

Ben Sira, penulis kitab Sirakh, sudah tahu ini ribuan tahun lalu. Ada sahabat, tulisnya, yang ikut serta dalam perjamuan makan, tetapi pada hari kesukaranmu tidak bertahan. Waktu engkau sejahtera ia seperti dirimu sendiri, tetapi bila engkau mundur ia berbalik dan menyembunyikan diri. Ia menasihati agar kita tidak buru-buru percaya: kajilah dia dahulu. Namun ia juga memuji tinggi sahabat yang setia: sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, dan barangsiapa menemukannya sungguh mendapat harta.

Yang menarik, Sirakh menaruh syarat rohani di ujungnya. Sahabat yang setia, katanya, diperoleh oleh orang yang takut akan Tuhan. Rupanya kesetiaan kepada sesama berakar pada kesetiaan kepada Allah. Orang yang belajar setia kepada Tuhan biasanya juga belajar setia menemani sesamanya di hari susah.

Maka ada dua pertanyaan hari ini, dan yang kedua lebih menusuk. Siapa sahabat yang bertahan menemani kita di hari susah? Dan, bagi siapa kita sendiri sanggup menjadi sahabat semacam itu?

Tuhan, jadikanlah aku sahabat yang bertahan di hari susah, bukan hanya hadir di hari pesta. Sebab Engkau sendiri tak pernah meninggalkan aku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →