‹ Semua renungan

Kamis, 24 Mei 2029

Garam yang Tawar

Di dapur, garam adalah bumbu yang paling tidak terlihat justru karena paling penting. Ia tidak pernah tampil di piring sebagai potongan yang bisa ditunjuk. Ia larut, hilang bentuk, tetapi seluruh masakan berubah karenanya. Anehnya, kita baru sadar akan garam justru ketika ia tidak ada. Sayur yang tawar langsung terasa ada yang salah, meski semua bahan lain lengkap.

Yesus memakai gambar sederhana dari dapur ini. Garam memang baik, kata-Nya, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain. Orang beriman dipanggil menjadi garam: hadir tanpa harus menonjol, mengubah suasana tanpa harus jadi pusat perhatian.

Tetapi ada bahaya yang Yesus ingatkan. Garam bisa menjadi tawar. Iman bisa kehilangan rasa, kebaikan bisa memudar menjadi kebiasaan kosong. Ketika itu terjadi, kita tidak lagi mengubah apa-apa di sekitar kita. Kehadiran kita ada, tetapi tidak terasa.

Menarik bahwa Yesus mengaitkan garam dengan perdamaian: milikilah garam, dan hiduplah berdamai satu sama lain. Rupanya rasa asin sejati orang beriman paling kelihatan bukan dalam kata-kata besar, melainkan dalam kemampuannya membawa damai di tengah orang. Hari ini, apakah kehadiran kita masih mengasinkan, atau sudah mulai tawar?

Tuhan, jagalah agar aku tidak menjadi garam yang tawar. Pakailah aku untuk mengasinkan dan mendamaikan tempat di mana Kautaruh aku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →