Selasa, 22 Mei 2029
Rebutan Nomor Satu
Di banyak pertemuan, ada satu pertanyaan yang tak terucap tetapi terus bekerja di bawah meja: siapa yang paling penting di ruangan ini? Kita otomatis mengukur, siapa yang perlu disapa lebih dulu, siapa yang boleh dicueki. Naluri membanding-bandingkan tempat itu begitu halus sampai sering tak kita sadari.
Kemarin kita menyaksikan Yesus menyembuhkan anak yang kerasukan. Hari ini, di jalan menuju Kapernaum, murid-murid malah bertengkar soal siapa yang terbesar. Celakanya, itu terjadi tepat setelah Yesus untuk kedua kalinya berbicara tentang kematian-Nya. Ia bicara soal menyerahkan nyawa, mereka sibuk berebut kursi. Maka Yesus duduk, memanggil mereka, dan berkata: jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya.
Lalu Ia melakukan sesuatu yang di zaman itu nyaris tanpa arti. Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Anak, pada masa itu, adalah sosok tanpa kedudukan, tanpa suara, tanpa kegunaan sosial. Justru sosok itu yang Yesus taruh di pusat perhatian, sambil berkata, barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.
Ukuran kebesaran dibalik total. Bukan seberapa banyak orang melayani kita, melainkan seberapa rela kita menyambut mereka yang tidak bisa membalas apa-apa. Siapa anak kecil di sekitar kita hari ini, orang yang tak berguna bagi karier kita, yang justru dititipkan Tuhan untuk kita sambut?
Tuhan, sembuhkanlah nafsuku untuk selalu jadi yang terbesar, dan ajarilah aku menyambut mereka yang tak dapat membalas apa-apa. Amin.