‹ Semua renungan

Minggu, 20 Mei 2029

Satu Nada Tiap Orang

Siapa pun yang pernah memegang angklung tahu perasaan ganjil ini: di tangan kita hanya ada satu nada. Digoyang sendirian, bunyinya nyaris tak berarti, hanya sepenggal getar yang menggantung di udara. Tetapi ketika puluhan orang menggoyang nada masing-masing pada saat yang tepat, tiba-tiba lahirlah sebuah lagu utuh yang tidak bisa dihasilkan oleh satu tangan mana pun.

Itulah kira-kira gambaran yang dilukiskan Paulus tentang Gereja pada hari Pentakosta. Ada rupa-rupa karunia, tulisnya, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan. Seperti tubuh yang satu memiliki banyak anggota, demikian pula jemaat. Roh Kudus tidak menyeragamkan kita menjadi nada yang sama. Ia justru merangkai perbedaan kita menjadi satu lagu.

Minggu lalu kita meninggalkan para murid menunggu dan berdoa di ruang atas bersama Bunda Maria. Hari ini penantian itu berakhir. Roh turun, dan hasilnya bukan satu bahasa tunggal, melainkan banyak bahasa yang tiba-tiba saling dimengerti. Orang Partia, Media, Elam, Mesir, Roma, masing-masing mendengar dalam bahasa negeri asalnya. Roh tidak menghapus keberagaman. Ia menyembuhkannya, membuat yang tadinya tercerai berai kembali bisa saling paham.

Dari mana kuasa sebesar itu berasal? Injil hari ini menunjukkan sumbernya dalam gerak yang amat lembut. Yesus tidak menurunkan Roh dengan gemuruh, melainkan dengan mengembusi para murid, persis seperti Allah dulu mengembuskan napas kehidupan ke hidung manusia pertama. Pentakosta adalah penciptaan yang diulang. Napas yang sama yang dulu menghidupkan tanah liat kini menghidupkan Gereja.

Yang menakjubkan, napas itu diberikan bukan kepada orang-orang gagah. Para murid sedang berkumpul di balik pintu terkunci karena takut. Ke ruang ketakutan itulah Yesus masuk, berkata damai sejahtera, lalu mengembusi mereka. Roh Kudus datang bukan sebagai upah bagi yang berani, melainkan sebagai anugerah bagi yang penakut, supaya mereka berani.

Maka Roh Kudus bukan hadiah untuk disimpan sendiri. Ia diberikan justru supaya bergerak keluar, dari ruang tertutup ke jalan-jalan, dari mulut para murid ke telinga segala bangsa. Karunia yang ditahan untuk diri sendiri selalu berhenti menjadi karunia.

Hari ini kita masing-masing memegang satu nada. Barangkali terasa kecil dan tak berarti kalau dibunyikan sendiri. Tetapi Roh yang sama sedang menyusun semuanya menjadi lagu bagi dunia. Tugas kita bukan menjadi seluruh orkestra, melainkan setia membunyikan nada kita pada saat yang tepat.

Roh Kudus, embusilah aku yang sering penakut, dan rangkaikanlah nadaku yang kecil ke dalam lagu besar Gereja-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →