Minggu, 13 Mei 2029
Ruang Tunggu Gereja
Hidup punya banyak ruang tunggu. Menanti hasil ujian, menanti kelahiran, menanti kabar dari perantauan. Ruang tunggu selalu terasa aneh: pekerjaan besar sudah selesai, pekerjaan berikutnya belum mulai, dan kita hanya bisa duduk. Tidak ada yang lebih menguji iman daripada masa menunggu, ketika kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa selain percaya.
Para murid berada persis di ruang tunggu seperti itu. Yesus sudah naik, Roh Kudus belum turun. Sepuluh hari kosong terbentang. Apa yang mereka lakukan? Bacaan pertama mencatatnya dengan tenang: mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa, bersama beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus. Mereka tidak panik menyusun strategi. Mereka berkumpul dan berdoa, dan di tengah mereka ada Bunda Maria.
Sungguh pada tempatnya bahwa di bulan Maria ini kita menemukan Bunda justru di ruang tunggu Gereja yang pertama. Ia yang dulu menanti kelahiran Putranya kini menanti kelahiran Gereja, dengan sikap yang sama: berdoa dan percaya. Maria mengajar murid-murid cara menunggu yang benar, bukan dengan cemas, melainkan dengan tekun berdoa bersama.
Sementara mereka menunggu di bawah, Injil memperlihatkan apa yang terjadi di atas. Yesus sedang berdoa bagi mereka: Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Ruang tunggu itu ternyata tidak sepi. Sementara para murid berdoa untuk Tuhan, Tuhan lebih dulu berdoa untuk mereka.
Petrus menambahkan nada realistis dalam bacaan kedua. Jangan heran kalau menunggu bersama Kristus kadang berarti ikut menderita. Jika kamu dinista karena nama Kristus, katanya, berbahagialah, sebab Roh kemuliaan ada padamu. Menunggu dalam iman tidak selalu nyaman, tetapi tidak pernah sia-sia.
Menunggu bersama ternyata beda jauh dari menunggu sendirian. Sendirian, waktu kosong terasa seperti beban yang menekan dada. Bersama dalam doa, waktu yang sama berubah menjadi persiapan. Para murid tidak keluar dari ruang atas itu sebagai orang yang lelah menunggu, melainkan sebagai orang yang siap menerima. Sebab mereka mengisi penantian bukan dengan kegelisahan, melainkan dengan doa dan kebersamaan.
Kita semua sedang menunggu sesuatu hari ini. Pertanyaannya bukan berapa lama lagi, melainkan bagaimana kita menunggu. Sendiri dan gelisah, atau berkumpul dan berdoa, dengan Bunda di tengah dan Tuhan yang lebih dulu mendoakan kita?
Tuhan, ajarilah aku menunggu seperti para murid di ruang atas: tekun berdoa, bersatu hati, ditemani Bunda-Mu, dan yakin bahwa Engkau lebih dulu mendoakan aku. Amin.