‹ Semua renungan

Kamis, 26 April 2029

Empat Puluh Tahun Sabar

Orang yang menanam jati tahu bahwa ia tidak sedang menanam untuk dirinya sendiri. Pohon itu baru layak dipanen puluhan tahun kemudian, oleh anak atau cucunya. Menanam jati adalah pelajaran tentang waktu: ada hasil yang memang tidak bisa diburu-buru.

Di rumah ibadat Antiokhia Pisidia, Paulus berdiri dan merunut sejarah panjang: Mesir, padang gurun, para hakim, Saul, Daud, sampai Yesus sang Juruselamat. Di tengah runutan itu terselip satu kalimat yang layak digarisbawahi: empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Empat puluh tahun disungut-sunguti, dikhianati, ditinggalkan demi anak lembu emas, dan Allah tetap menuntun. Dari Abraham sampai Betlehem, Allah bekerja dalam hitungan generasi, bukan hitungan hari.

Kita hidup dengan takaran yang jauh lebih pendek. Doa yang belum dijawab dalam sebulan sudah kita anggap ditolak. Anak yang belum berubah dalam setahun sudah membuat kita putus asa. Padahal Allah yang kita doakan adalah penanam jati, bukan penjual sayur pagi.

Kesabaran-Nya itu bukan hanya pelajaran, melainkan juga pengalaman pribadi kita. Coba hitung berapa tahun Allah sudah sabar terhadap tingkah laku kita sendiri. Kalau Ia menakar kita dengan takaran kita, kita sudah lama tumbang. Maka layaklah kita menyabarkan diri terhadap orang lain, sebagaimana Ia panjang sabar terhadap kita.

Ya Allah, penanam yang sabar, ajarilah aku menunggu menurut kalender-Mu, dan bersabar kepada sesamaku seperti Engkau bersabar kepadaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →