Rabu, 25 April 2029
Turunkan Tasmu
Ada penumpang bus yang sepanjang perjalanan memangku tasnya erat-erat, padahal di atas kepalanya tersedia rak bagasi. Sampai tujuan, bahunya pegal sendiri. Bus itu mengangkut dirinya sekaligus tasnya; ia saja yang tidak tega menaruh.
Dalam suratnya, Petrus menulis nasihat yang kita baca pada pesta Santo Markus hari ini: serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Segala, bukan sebagian. Kekuatiran soal anak, biaya, kesehatan, hari tua. Banyak dari kita percaya Tuhan sanggup mengangkut hidup kita, tetapi tas kecemasan tetap kita pangku sendiri semalam-malaman.
Yang menulis nasihat ini bukan orang yang hidupnya aman. Petrus menulis dari tengah ancaman, dan ia jujur soal itu: lawanmu, si iblis, berjalan keliling seperti singa yang mengaum-aum. Justru karena bahayanya nyata, kekuatiran tidak boleh dipikul sendiri.
Di ujung surat, Petrus menitip salam dari Markus, anakku. Panggilan itu hangat. Markus adalah anak rohaninya, dan menurut tradisi, Injil Markus lahir dari ingatan serta pewartaan Petrus yang ia tuliskan dengan setia. Warisan Petrus kepada Markus bukan harta, melainkan keyakinan yang sama: Ia memelihara kamu. Keyakinan itu pula yang membuat Markus berani membawa Injil sampai ke Aleksandria.
Hari ini nasihat tua itu sampai kepada kita, masih hangat: turunkan tasmu. Bahumu bukan rak bagasi.
Tuhan, satu per satu kuserahkan kekuatiranku kepada-Mu malam ini, sebab Engkau yang memelihara aku. Amin.