‹ Semua renungan

Minggu, 15 April 2029

Tamu yang Menunggu Diundang

Dua orang berjalan menjauhi Yerusalem dengan muka muram. Arah kaki mereka jujur menggambarkan arah hati: meninggalkan tempat harapan itu dikuburkan. Kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang membebaskan Israel, kata mereka. Kami dahulu mengharapkan. Barangkali tidak ada kalimat yang lebih sedih daripada harapan yang disebut dalam bentuk lampau.

Lalu seorang asing menyusul dan berjalan bersama mereka. Ia tidak langsung berkhotbah. Ia bertanya, apakah yang kamu percakapkan? Ia membiarkan dua orang itu menumpahkan seluruh kekecewaannya, padahal yang mereka ceritakan adalah kisah-Nya sendiri. Yesus rupanya pendengar yang sabar sebelum menjadi penafsir yang membakar. Sesudah semuanya tumpah, barulah Ia menerangkan Kitab Suci, dan diam-diam hati mereka mulai berkobar.

Sampai di Emaus terjadi hal yang halus. Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Yesus tidak menyodorkan diri untuk menginap. Ia menunggu diundang. Dan mereka sangat mendesak-Nya: tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam. Baru setelah diundang Ia masuk. Di meja makan Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, dan pada gerakan yang sangat mereka kenal itu mata mereka terbuka.

Beginilah cara Tuhan yang bangkit memperlakukan orang yang kecewa. Ia tidak menghardik dari jauh, tetapi berjalan di sampingnya, sabar mendengarkan, lalu menunggu diundang masuk. Petrus dalam bacaan kedua mengingatkan betapa mahal semua itu: kamu ditebus bukan dengan perak atau emas, melainkan dengan darah Kristus. Kasih semahal itu, anehnya, tetap sopan. Ia tidak pernah mendobrak pintu hati siapa pun.

Kedua murid itu bangun malam itu juga dan menempuh lagi jalan yang sama ke Yerusalem. Jalan yang tadi ditempuh dengan muram kini ditempuh dengan berlari. Jalannya sama, hatinya yang sudah lain.

Mungkin kita sedang berjalan di jalan Emaus kita sendiri, menjauh dari harapan yang terasa sudah mati. Periksalah, jangan-jangan ada yang sedang berjalan di samping kita, menunggu satu kalimat saja: tinggallah bersama kami. Ucapkanlah, dan biarkan Ia memecah roti di meja kita.

Tuhan Yesus, tinggallah bersamaku, sebab hariku sering menjelang malam. Terangkanlah Kitab Suci sampai hatiku berkobar lagi. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →