Sabtu, 14 April 2029
Urusan Meja
Kemarin kita melihat para rasul pulang dari sidang dengan gembira, dan jemaat terus bertambah. Hari ini kita menemukan sisi lain dari pertumbuhan: masalah dapur. Janda-janda kelompok berbahasa Yunani terabaikan dalam pembagian harian. Muncullah sungut-sungut.
Perhatikan cara para rasul menanganinya. Mereka tidak berkhotbah menyuruh para janda bersabar. Mereka juga tidak menganggap urusan itu terlalu remeh untuk diurus. Mereka membentuk tim: pilihlah tujuh orang yang terkenal baik, penuh Roh dan hikmat. Syaratnya mengejutkan. Untuk membagi makanan di meja, dibutuhkan orang yang penuh Roh Kudus. Rupanya di mata Gereja perdana, urusan meja dan urusan mimbar sama-sama pekerjaan rohani, hanya bentuknya yang berbeda.
Hasilnya dicatat Lukas dengan rapi: firman Allah makin tersebar dan jumlah murid makin bertambah. Pewartaan berkembang justru setelah dapur dibereskan. Kesaksian yang paling nyaring kadang bukan khotbah, melainkan pembagian yang adil dan pelayanan yang beres.
Di paroki dan lingkungan kita, ada banyak nama yang jarang naik mimbar: seksi konsumsi, pengurus kas, sopir antar jemput orang sakit, petugas kebersihan gereja. Bacaan hari ini mengangkat topi untuk mereka. Melayani meja bukan pekerjaan kelas dua. Stefanus, yang kelak menjadi martir pertama, memulai pelayanannya dari sana.
Maka jangan menunggu tugas besar untuk mulai melayani. Meja yang paling dekat dengan kita hari ini adalah panggilannya.
Tuhan, penuhilah dengan Roh-Mu tangan-tangan yang melayani di dapur, di kas, dan di jalan, agar dari meja yang beres firman-Mu makin tersebar. Amin.