Rabu, 11 April 2029
Ayat yang Terlalu Kita Hafal
Ada lagu yang dulu membuat kita berhenti bekerja hanya untuk mendengarkannya. Sekarang lagu itu diputar di mana-mana, dan telinga kita lewat begitu saja. Bukan lagunya yang berubah. Kita yang sudah terlalu sering mendengar sampai tidak lagi mendengarkan.
Kemarin kita mendengar Yesus berbicara kepada Nikodemus tentang ular yang ditinggikan di padang gurun. Malam ini percakapan itu sampai pada puncaknya, kalimat yang mungkin paling banyak dikutip di seluruh dunia: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Ayat ini tercetak di kaus, di stiker, di spanduk. Dan justru karena itu ia terancam bernasib seperti lagu tadi: hafal di bibir, hilang di hati.
Maka hari ini cobalah membacanya pelan-pelan, seperti orang yang baru pertama kali mendengarnya. Begitu besar. Bukan sekadar besar, tetapi besar yang membuat Allah rela kehilangan. Mengaruniakan, bukan meminjamkan. Anak-Nya yang tunggal, bukan sesuatu yang berlebih. Kasih memang tidak diukur dari kata-katanya, melainkan dari apa yang rela dilepaskan.
Dan tujuannya bukan menghakimi dunia, melainkan menyelamatkannya. Terang sudah datang. Satu-satunya soal tinggal ini: kita mau mendekat kepada terang itu, atau bersembunyi darinya.
Bapa, ampunilah aku yang sering menganggap biasa kasih yang begitu besar. Buatlah hatiku terpana lagi seperti pertama kali mendengarnya. Amin.